SEJARAH DESA TRASAN

Pada saat jaman kerajaan Demak masih berjaya, ada salah seorang punggawa shaleh yang terkenal sangat gigih dalam berdakwah dalam menyebarkan agama Islam diwilayah kerjaan Demak. Orang tersebut bernama Kyai Dzul Tras. Beliau adalah salah satu murid dari Ki Ageng Pandanaran. Ketika Kyai Dzul Tras hendak diangkat menjadi pejabat di kerajaan Demak, beliau menolak dan memilih hijrah keluar dari kerajaan Demak mengikuti Ki Ageng Pandanaran untuk melaksanakan siár agama Islam ke wilayah Timur. Ki Ageng Pandanaran menuju wilayah Timur dan jumeneng sampai wafatnya di Desa Jabalkat Klaten.

Sedangkan Kyai Dzul Tras menuju kearah Barat untuk melaksanakan dakwah islamiyahnya dengan gigih dan penuh semangat. Selama melaksanakan penyebaran islam di wilayah itu banyak berkenalan dengan orang-orang muslim dan berpengaruh untuk kemudian menjadi pengikutnya.

Dengan kemajuan yang sangat pesat, sejumlah masyarakat sekitar menginginkan masjid pamijahan (Masjid patilasan wali songo) untuk dipindah dari tempat lama ke tempat yang baru. Dari musyawarah tersebut disepakati agar untuk segera dipindah dengan pertimbangan Kyai Dzul Tras. Kyai Dzul Tras beserta pengikutnya mengadakan doá bersama supaya hajat yang dimnta terkabul Allah SWT. Ketika pagi hari, sejumlah masyarakat yang melihatnya merasa aneh dan takjub atas pindahnya masjid pamijahan. Karena sehari sebelumnya posisi masjid masih di sebelah utara. 

Sejak saat itu penyebaran agama islam di wilayahnya berpusat di kauman dan sejumlah kyai pengikutnya bermusyawarah dengan memberikan nama Desa Trasan yang artinya Terusan mengambil dari Kyai Dzul Tras. Dari situlah awal mula nama Desa Trasan itu berdiri.


Dibawah ini ditampilkan foto masjid jami' trasan tahun 1983, dalam film jaka tingkir